. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Zaman sekarang
teknik-teknik melatih sudah menjadi semakin scienctific
dan semakin canggih. Prestasi-prestasi yang dahulu diperkirakan orang tidak
mungkin akan dicapai oleh manusia, kini seringkali bukan hayalan lagi. Hal ini
disebabkan karena pelatih-pelatih zaman sekarang sudah tidak terlalu sukar lagi
untuk memperoleh dan memanfaatkan data-data ilmiah tentang aspek-aspek fisik
maupun psikologis dunia olah raga untuk aplikasi program latihan.
Akan tetapi
banyak pelatih yang mengeluh kekurangan waktu untuk latihan, dan merasah bahwa
waktu untuk latihan terlalu singkat. Sebenarnya, pada umumnya hal ini
disebabkan karena pelatih tersebut kurang cerdik dalam menyusun rencana-rencana
latihannya. Kekurangan waktu latihan biasanya juga disebabkan karena pelatih
tidak menjalankan latihan-latihan secara bisnis (bisinesslike).
Latihan-latihan
haruslah direncanakan dengan baik (well
organized). Mulailah dengan membuat rencana
yang makro, benar, kemudian susunlah secara sistematis dan mendetail agar semua
yang akan dilakukan dapat terlaksana dan terkontrol. Selain itu seorang pelatih
harus maha tahu tentang segala aspek mengenai cabang olaraga yang dilatihnya.
Hal-hal yang
sangat penting seringkali lepas dari perhatian pelatih dan menajer tim adalah,
bahwa jadwal pertandingan-pertandingan uji coba harus disusun sedemikian rupa
sehingga menjamin atlet untuk mencapai prestasi puncaknya pada saat yang tepat,
yaitu saat dilaksanakannya pertandingan utama. Karena itu, jadwal test trial
harus disusun secara cerdik. Perencanaan yamg kurang cerdik dan kurang
inteligen seringkali justru mengacaukan penampilan optimal atlet-atlet pada
pertandingan utamanya.
Jadi antara
jadwal latihan dan pertandingan harus ada keseimbangan yang wajar. Seorang
atlet tidak bisa dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding sebanyak
mungkin pula. Sebaliknya, seorang atlet juga tidak bisa dilatih sebanyak
mungkin tanpa sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding untuk menguji diri
sendiri dan untuk mengukur potensi yang sebenarnya serta melihat hasil yang
telah dicapai dari program latihan.
I.2. Rumusan Masalah
- Kurang detailnya perencanaan
progam latihan
- Target progam latihan yang
belum jelas
- Wawasan pelatih yang relatif
kurang
I.3. Maksud dan Tujuan
- Mendapatkan pola perencanaan
prpogam latihan yang berkualitas
- Mendapatkan titik temu
antara masalah dan tujuan
- Menambah wawasan dalam dunia
olaraga
II. TINJAUAN
PUSTAKA
II.1. Falsafah Pelatih
Falsafah
adalah, suatu sistem dari prinsip-prinsip yang dipakai untuk membimbing orang
dalam berkegiatan. ”a system of
principles for guidance in pratical affairs”(Martin dan Lumsden : 1987)
Falsafah
seseorang tercermin dalam pandangannya tentang dunia, tentang situasi sekitarnya,
tentang hubungan antar manusia, serta tentang nilai-nilai yang diberikannya
untuk itu semua. Karena itu seseorang yang misalnya menilai bahwa mengumpulkan
kekayaan lebih penting dari pada mencari hubungan yang mesra dengan sesamanya,
semua kegiatannya, polahnya, kiprahnya, akan mencerminkan falsafahnya tersebut.
“ That which a person believes and his
reactions to the world about him reflects his philosophy of life”. (Klaffs dan Arnheim : 1963).
Jika seseorang
bicara mengenai falsfah pelatihan, maka ia sedang membicarakan suatu perangkat
sikap (attitudes) atau
prinsip-prinsip dasar yang menuntun tabiat dan prilaku pelatih di dalam
situasi-situasi praktek. Falsafah seorang pelatih dapat diketauhi dengan
mengobservasi prilaku para atletnya, seperti halnya gaya permainan atletnya,
rasa hormat (respect ) yang
doperlihatkan kepada para official dan lawan-lawannya, bahasa yang
digunakannya, prilaku di luar lapangan, kesanggupan untuk mengatasi stres-stres
pertandingan, semangat bertandingnya, kesetiaan terhadap teman dan timnya,
staminanya pada akhir pertandingan, sampai pada kostum latihan dan
pertandingannya, Itu semua merupakan sebagian dari indikator-indikator yang
mencerminkan falsafah pelatihnya.
II.2. Model Kepemimpinan
Di dalam
literatur ilmiah mengenai kepemimpinan, batasan yang sering dipakai adalah
bahwa ”seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu menanamkan pengaruh yang
lebih besar dibandingkan dengan anggota-anggota lain dalam kelompoknya”. Adanya
kepemimpinan ditentukan oleh sedikitnya tiga kondisi sosial, yaitu (1) adanya
suatu kumpulan oarang yang terdiri dari dua atau lebih, (2) adanya tugas yang
sama, dan (3) adanya tanggung jawab yang berbeda. Atas dasar ketiga kondisi sosila tersebut Stogdill memberikan batasan bahwa
kepemimpinan adalah ”the process of
influencing the activities of an organized group in is offorts toword goal
setting and goal achieventment”. (Cox : 1985)
Dalam dunia
olahraga dapat kita amati bahwa, meskipun banyak gaya kepemimpinan yang
berbeda, banyak pelatih yang ternyata sukses dalam pembinaannya dengan gayanya
masing-masing. Akan tetapi sukses tidaknya kepemimpinannya tidak ditentukan
oleh suatu gaya tertentu saja. Ppada umumnya ada empat jenis gaya kepemimpinan
yang standard an yang dianut oleh para pelatih, yaitu :
- gaya authoritarian
(otokratis,otoriter)
- gaya demokratis
- gaya yang lebih
memperhatikan anak didik/atlet (people centered)
- gaya yang lebih menekankan
pada tugas (task oriented)
II.3. Menetapkan Sasaran
Seringkali
suatu tim atau atlet tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, atau kurang
motivasinya untuk berlatih disebabkan karena tidak ada tujuan atau sasaran yang
jelas untuk apa tim atau atlet itu berlatih. Hal ini juga sering kali juga
disebabkan oleh para pelatih sendiri yang tidak secra jelas menerangkan kepada
para atlet tujuan dari latihan yang diberikan, kemana para atlet akan dibawa,
dan apa yang diharapkan pada akhir latihannya.
Atlet akan
meras berkewajiban dan terikat untuk mencapai sasaran tersebut. Hal ini
biasanya akan dengan sendirinya menumbuhkan kesadaran, kepercayaan, dan empati
(penjiwaan) yang lebih besar pada diri atlet. Apalagi kalu adanya
sasaran-sasaran yang ditetapkan tersebut berhasil atau mampu dicapainya, atlet
akan memperoleh suatu kebanggaan tersendiri sehiongga dorongan untuk mencapai
sasaran yang lebih tinggi menjadi lebih besar dan memang seperti yang
diungkapkan oleh Fixx (1985)..”for
motivation, you can’t let your self get setisfied, you have to keep raising
your goals”.
II.4. Prinsip-Prinsip Latihan
II.4.1. Training
Training adalah
proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang di lakukan secara
berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau
pekerjaannya. (Harsono : 1982)
Yang dimaksud
dengan sistematis adalah, berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem
tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, latihan yang teratur, dari yang
sederhana ke yang lebih komopleks. Berulang-ulang maksudnya adalah agar
gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan sehingga semakin menghemat
energi.kian hari maksudnya adalah setiap kali, secara periodik, segera telah
tiba saatnya untuk ditambah bebannya, jadi bukan berati setiap hari.
II.4.2. Intensitas Latihan
Intensitas
latihan dapat diukur dengan berbagai cara. Yang paling mudah adalah dengan cara
mengukur denyut jantung (Heart rate).
Suatu teknik yang dapat dipakai untuk mengukur intensitas latihan adalah teknik
yang dipakai Karvonen (1957) dengan rumus : THR = RHR+0,6 (MHR-RHR).
Perlu dicatat
bahwa teknik pengukuran tersebut menunjukkan batas terendah dari intensitas
latihan. Untuk atlit-atlit yang sudah terlatih, intensitasnya bisa ditentukan
lebih tinggi. Untuk atlit-atlit cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan
tinggi, intensitas latihan bisa sampai mendekati maksimal, sehingga dengan
demikian bukan kemampuan aerobiknya saja, akan tetapi kemampuan an aerobiknya
pun terlatih.
II.4.3. Kualitas Latihan
Berlatih secara
intensif saja belum cukup apabila latihan itu tidak berbobot, bermutu, dan
berkualitas. Kualitas latihan yang diberikan pelatih kepada atlit, atlit
haruslah merasakan bahwa apa yang diberikan oleh pelatih adalah memang berguna
baginya, dan bahwa dengan itu dia telah belajar atau mengalami sesuatu yang
baru. Kalau bukan dibidang fisik, teknik, atau taktik, dalam segi mental dia
telah mendapatkan pengalaman yang baru dan telah dirasakannya sebagai sesuatu
yang penting dan berguna ( Katch dan Mcardle : 1983).
Salah satu ciri
yang membedakan seorang juara dengan bukan juara adalah caranya berlatih.
Seorang juara sangat memperhatikan kelemahan-kelemahannya, sampai yang terkecil
sekalipun untuk disempurnakan. Dan dia belum puas kalau kelemahan-kelemahannya
itu belum sempurna diperbaiki walaupun untuk itu dia harus berlatih lama.
Bebeda dengan seorang bukan juara yang mengira bahwa kualitas latihan dapat
latihan mengatasi segala kekurangan dan kelemahan.
Dengan demikian
latihan yang bermutu adalah apabila latihan dan driel-driel yang diberikan
memang benar-bnar sesuai dengan kebutuhan atlit, apabila koreksi-koreksi yang
kontruktif sering diberikan, dan apabila prinsip-prinsip Over load diterapkan,
baik dalam segi fisik maupun mental atlit maka latihan-latihan yang kurang
intensif akan tetapi bermutu, sering lebih berguna dari pada latihan yang
intensif tetapi tidak bermutu.
II.4.4. Lama Latihan
Kekeliruan yang
sering dilakukan oleh banyak pelatih adalah jika mereka lebih menekankan pada
lamnya latihan daripada penambahan beban latihan. Waktu latihan sebaiknya
pendek akan tetapi berisi dan padat dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Kecuali waktunya yang pendek, latihan juga harus dilakukan sesering mungkin.
Setiap latihan tersebut harus dilakukan dengan usaha yang sebaik-baiknya dan
kualitas atau mutu ynag tinggi. Dengan
demikian kita harus pula memperhatikan. ”As
soon as bead feature creep into the performance, that particular practice
mustop”(Thomas : 1970). Artinya, segera nampak bahwa atlit mulai sering
melakukan kesalahan-kesalahan, segera pula latihan harus segera dihentikan.
Oleh karena kalau atlit berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama maka hal
ini akan mudah membentuk handicapping
habits. Dan kita tahu pengalaman bahwa susahnya membetulkan kembali
kebiasaan-kebiasaan yang salah dan buruk yang sudah melekat pada atlit
Apabila
waktu latihan berlangsung lama dan terlalu melelahkan maka bahayanya adalah
atlit akan memandang setiap latihan sebagai suatu siksaan dan sebaliknya suatu
latihan-latihan yang pendek adalah akan terus membawah atlit dalam pola
berpikir tentang latihannya, artinya segala sesuatu yang diberikan kepadanya
akan dapat terus terpola dalam pikirannya. Oleh karena itu belum tentu seorang atlit enggan pergi katihan disebabkan
dia malas. Sebagaimana pula belum tentu mahasiswa malas kuliah disebabkan
karena dia memang pemalas. Mungkin saja disebabkan kuliah-kuliahnya tidak
menarik.
II.4.5. Tes Uji Coba
Tes uji coba
(Tes treal) adalah tes-tes atau pertandingan-pertandingan yang di jadwalkan
sebelum pertandingan besar sebenarnya berlangsung. Pertandingan-pertandingan
uji coba mengandung unsur-unsur dan potensi-potensi belajar yang sangat penting
bagi atlit, artinya atlit akan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman dalam
pertandingan uji coba tersebut. Selain itu ketangguhan fisik dan mental yang
sebenarnya akan nampak dan terungkap jelas dalam situasi-situasi pertandingan
tersebut.
Hal yang sangat
penting, dan sering kali lepas dari perhatian pelatih dan manajer tim adalah
jadwal pertandingan-pertandingan uji coba harus disusun sedemikian rupa
sehingga menjamin atlit untuk mencapai puncaknya pada saat yang tepat. Karena
itu jadwal tes treal harus di susun secara cerdik jangan asal mengikuti
pertandingan pada sembarang waktu. Perencanaan yang kurang cerdik dan kurang intelegen
sering kali justru mengacaukan penampilan optimal atlit-atlit pada pertandingan
utamanya. Jadi kesimpulannya adalah antara jadwal latihan dan pertandingan
harus ada keseimbangan yang wajar.
Seorang atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding
sebanyak mungkin pula. Sebaliknya atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin
tanpa sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding untuk menguji kemampuan diri
sendiri dan untuk mengukur potensi-potensinya serta melihat hasil yang telah di
capai dari progam latihan.
II.6. Musim-Musim Latihan
Prestasi
maksimal tidak mungkin akan dapat dicapai dalam waktu tan singkat. Perkembangan
fisik dan mental, pembinaan serta peningkatan prestasi, hanyalah dapat
dikembangkan melalui suatu program latihan jagka panjang oleh karena
perubahan-perubahan dalam organisasi mekanisme neurophysiologis dan
perkembangan jaringan-jaringan tubuh tidak mungkin terjadi dalam waktu yang
pendek.
Teknik
adalah..” that pattern
of movement which is techbically part but not the wholw part of that skill” (Willmore : 1977). Penguasaan
keterampilan teknik dasar yang telah dilaksanakan dal musim pendahuluan kini
haruslah disempurnakan, yaitu dari teknik-teknik bagian dipindahkan ke gerakan
keseluruhan. Dari skill elements ke whole movements; dari performa perorangan
ke performa tim.
Program
latihan haruslah disusun secara teliti dan dilaksanakan secara tekun dan
teratur sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Program-program demikian akan
memungkinkan seorang pelatih memberikan sebanyak mingkin kepada para atlet guna
perkembangan pengetahuan maupun keterampilannya.
Dalam
menjalankan aktifitas tersebut tentunya membutuhkan waktu yang lam, maka dengan
demikian jadwal training haruslah dibagi-bagi dengan beberapa tahap atau musim
latihan agar dalam setiap musim pelatih dapat menekankan latihannya pada suatu
aspek latihan.
II.7. Motivasi
Secara unun,
istilah motivasi mengacu kepada faktor-faktor dan proses-proses yang bermaksud
untuk mendorong seseorang untuk beraksi atau untuk tidak beraksi dalam berbagai
situsi (Catty; 1973). Motifasi sendiri adalah wujud yang tidak nampak pada
orang dan yang tidak bisa kita amati secara langsung. Yang dapat diamati adalah
tingkah lakunya yang merupakan akibat atau manifestasi dari adanya motivasi
pada diri seseorang.
Seseorang
sering dibebani suatu pemikiran yang sewaktu-waktu dapat dapat mendorong untuk
bereaksi ataupun tidak bereaksi. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab
mengapa sukar sekali orang mengukur motivasi secara reliable, terutama apabila pengukuran ini tergantung dan sering
kali berhubungan dengan kata hati (mood),
perasaan atau verbalisasi orang yang kita tersebut. Ditinjau dari fungsinya motivasi dapat berfungsi sebagai motivasi ekstinsik
dan intrinsik.
II.4.6. Evaluasi
Latihan fisik
maupun latihan keterampilan, tidak perlu berarti akhir dari latihan mental.
Nasehat-nasehat atau informasi-informasi intelektual dan verbal yang diberikan
selama latihan akan lebih mudah diingat oleh atlit apabila pada akhir latihan
informasi-informasi tersebut diulang kembali. Latihan akan produktif apabila
diakhiri dengan suatu evaluasi verbal maupun intelektual antara pelatih dan
atlit dengan harapan dapat memberi kesempatan pada atlit untuk mengevaluasi
yang baru dijalani.
Fungsi evaluasi
yang dimaksud dalam hal ini adalah untuk mengevaluasi efisiensi latihan yang
telah, termasuk menilai kondisi fisik atlit, sikap mental atlit dan kemudian
untuk menyusun rencana latihan berikutnya.
III. PEMBAHASAN
III.1. Pentingnya Rancangan Program Latihan
Berlatih keras
dan tekun memang wajar dilakukan oleh atlit yang ingin mengejar prestasi
setinggi-tingginya, oleh karena berlatih intensif memang dituntut dalam suatu
progam latihan yang terorganisasi dengan baik dan yang disusun secara
sistematis. Konsekuensi dari latihan-latihan yang berat tentu saja adalah
kelelahan dalam waktu yang cukup lama (antara 12 sampai dengan 24 jam). Dan
setelah itu atlit akan merasa segar dan bugar kembali.
Akan tetapi ada
sementara atlit yang ingin mengejar prestasi setinggi-tingginya dalam waktu
yang terlalu singkat sehingga sering kali kurang memperhatikan pentingnya
latihan yang sistematis dan metodis, serta istirahat yang cukup. Kalau cara
berlatih demikian dilakukan secara terus menerus, maka atlit akan mengalami
kondisi yang labil sehingga mudah dihinggapi ”penyakit” Yang didunia olahraga
Staleness.
Staleness
memang merupaka ”hantu” bagi banyak atlit. Akan tetapi sebenarya staleness
tidak perlu terjadi apabila beban latihan diberikan secara bertahap dan
progresif, jadwal latihan terencana dengan baik dan ada fariasi-fariasi yang
menarik dalam jadwal seperti piknik, rekreasi dan sebaginya.
III.2. Langkah-langkah Membuat
Program Latihan
Merancang suatu
progam latihan untuk sekumpulan atlit yang terlibat dalam olahraga perorangan
seperti senam, atletik, renang dansebagainya, memang merupakan masalah yang
lebih rumit bagi pelatih dibandingkan dengan merancang latihan untuk
atlit-atlit olahraga beregu seperti Bola Voli,Sepak Bola, dan Bola Basket.
Dalam olahraga perorangan setiap atlit harus diberikan intruksi yang jelas baik
secara oral maupun tertulis mengenai apa yang harus dikerjakannya pada saat latihan.
Sering kali
atlit-atlit olahraga perorangan harus bertanding tanpa didampingi secara
langsung oleh pelatih. Oleh karena itu bagi atlit-atlit demikian penting
pelatih menciptakan suatu ”Isolation Training” atau latihan mandiri. Dalam
Isolation Training, atlit untuk beberapa waktu berlatih sendiri tanpa didampngi
langsung oleh pelatihnya. Maksud latihan demikian adalah untuk mempersiapkan
atlit untuk berdikari, oleh karena suasana demikian atlit akan menjumpai dalam
pertandingan-pertandingan sebenarnya.
Adapun untuk
olahraga beregu makin besar kumpulan orang yang dilatih makin besar pula
sebaiknya toleransi pelatih dalam memberikan latihan-latihannyan, demikian pula
makin besar kumpulan orang yang dilatih makin baik pelatih harus mengorganisasi
jadwal latihan. Pada umumnya makin besar kumpulan orang makin kecil sumbangan
yang dirasakan oleh setiap anggota regu terhadap hasil keseluruhan tim.
Karena itu,
pelatih suatu cabang olahraga beregu mempunyai masalah-masalah yang agak
berbeda dengan pelatih suatu cabang olahraga perorangan. Atlit olahraga
perorangan biasanya mempunyai rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap
prestasinya dibandingkan dengan atlit cabang olahraga beregu.
Pelatih cabang
olahraga beregu harus lebih fleksibel dalam cara mengajarkan keterampilan-keterampilan.
Oleh karena akan selalu ada perbedaan-perbedaan individu atlit, misalnya pada
cara belajar, kecepatan belajar, dan adaptasi. Maka pelatih harus mempunyai
banyak ragam dalam cara mengajar skills agar intruksi-intruksi yang diberikan
benar-benar dapat di mengerti oleh setiap anggota tim, terutama pada waktu
mengajar teknik-teknik atau driel-driel baru.
III.3. Langkah-langkah Evaluasi
Dalam evaluasi
pada akhir latihan baik latihan fisik maupun teknik tidak perlu berarti akhir
dari latihan mental. Nasehat-nasehat atau informasi-informasi intelektual yang
diberikan selama latihan akan lebih mudah di ingat oleh atlit apabila pada
akhir latihan informasi-informasi tersebut diulang kembali, sambil memberiklan
kesempatan pada atlit untuk mengevaluasi latihan yang baru dijalani. Latihan
akan produktif apabila di akhiri dengan suatu evaluasi antara pelatih dan
atlit.
Perlunya
diadakan evaluasi pada akhir latihan adalah untuk mengevaluasi efisiensi
latihan yang telah dilakukan termasuk menilai kondisi fisik atlit, sikap mental
dan kemudian untuk menyusun rencana latihan berikutnya.
III. PENUTUP
IV.1. Kesimpulan
Pentingnya
perencanaan program pelatihan adalah, bahwa antara jadwal latihan dan
pertandingan harus ada keseimbangan yang wajar. Seorang atlet tidak bisa
dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding sebanyak mungkin pula.
Sebaliknya, seorang atlet juga tidak bisa dilatih sebanyak mungkin tanpa
sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding untuk menguji diri sendiri dan untuk
mengukur potensi yang sebenarnya serta melihat hasil yang telah dicapai dari
program latihan.
IV.2. Saran
Latihan-latihan
haruslah direncanakan dengan baik (well
organized). Mulailah dengan membuat rencana
yang makro, benar, kemudian susunlah secara sistematis dan mendetail agar semua
yang akan dilakukan dapat terlaksana dan terkontrol. Selain itu seorang pelatih
harus maha tahu tentang segala aspek mengenai cabang olaraga yang dilatihnya.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Harsono, 1982
; Aspek-aspek
Psikologis dalam Coaching, Pustaka Bandung.
Windaninggar, 2002 “Ketahuilah tingkat kesegaran jasmani anda”, Pusat
pengembangan kualitas jasmani, Jakarta.
Suhantoro, 1988
”Kesegaran jasmani”, Dinas kesehatan
DKI Jakarta.
Windaninggar, 2003 ”Tes kesehatan Jasmani Indonesia”, Pusat
pengembangan jasmani, Jakarta.
http://www.answers.com/topic/psychomotor-stimulant?health